Rasionalisme
Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat ilmu
Dosen pengampu
Andy Dermawan,M.Ag
Disusun
oleh :
Abdur
Rahman
Rifqi
Shofiana Muktar
Nok
Elis
Enggar
Nurjati
Fitria
Rosyidah Jamil
Adnan
Ramadhan
Ummi
Kusumastuti
Jurusan
Sosiologi
Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2013
A.
Pendahuluan
Sejarah
perkembangan sebuah ilmu pengetahuan banyak yang lahir karena latar belakang
masyarakat yang hidup saat itu. Teori-teori sosial Marx misalnya yang kini
banyak dijadikan rujukan oleh para ilmu sosial dan ilmuwan-ilmuwan yang
lain. Begitu pula dengan lahirnya sebuah paham atau ideologi, rasionalisme
misalnya yang akan dibahas dalam makalah ini juga lahir karena gejolak sosial yang mana manusia di
tuntut untuk patuh pada doktrin-doktrin agama yang secara akal tidak bisa diterima oleh golongan rasionalisme. Saat itu
keberadaan manusia kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran saat itu diukur
berdasarkan ukuran dari gereja, bukan menurut ukuran yang buat oleh manusia. Maka lahirlah Rasionalisme sebagai reaksi terhadap dominasi gereja pada
abad pertengahan kristen di barat.
Gejolak ini
tersebut berlanjut hingga pada saat lahirnya seorang filusuf modern yaitu Descartes
yang kemudian berhasil mengumumkan rasionalismenya, karena juga tidak luput dari
realitas masyarakat yang saat itu dikenal sebagai masa renaissance yaitu
masa penemuan manusia dan dunia, dan
merupakan permulaan kebangkitan dunia modern.
Orang membagi sejarah peradaban menjadi empat di mana renaissance
dianggap sebagai babak ketiga dari ke empat babak tersebut yaitu abad ke-19.
Renaissance dianggap sebagai masa kebangkitan kembali setelah lama berada pada
masa kegelapan di bawah naungan dokma atau doktrin agama.
Setelah Descartes mengumumkan
tentang rasionalismenya, maka dimulailah babak baru dari pencerahan modern dan
kemudian dia dikenal sebagai bapak filosof modern. Sebagai orang yang berpaham rasional dia mencoba untuk
merasionalkan segala sesuatu dengan akalnya hingga pada akhirnya dia merasa
kebingungan sendiri ketika dia harus merasionalkan dengan adanya tuhan.
Disinilah kelemahan flsafatnya yang tidak bisa berfikir jauh untuk membuktikan
bahwa tuhan ada.
Dalam
perkembangannya rasionalisme semangkin menunjukan eksistensinya, hal itu karena
descartes sebagai tokoh pertama rasionalisme telah mampu menunjukan kebenaran
dalam filsafatnya kepada tokoh-tokoh gereja yang sangat kukuh keimanannya
kepada agama. Keeksistensian rasionalisme semangkin kukuh setelah faham
rasional ini terus dikembangkan oleh spinoza dan leibnis, yang mana mereka juga
metjjr ngawali filsafatnya dengan metode yang pernah di terapkan oleh
descartes.
Rasionalisme yang
berasumsi bahwa bagian terpenting dalam pengetahuan datang dari akal yaitu
dengan berfikir secara rasional. Hal ini
sangat bersebarangan dengan empirisme yang menekankan bahwa semua hpengetahuan
terpenting tertumpu pada panca indra. Kedua faham ini mengalir bagaikan air dan
minyak yang tak pernah menyatu dan tersu bertolak belakang. Golongan rasionalis
akan menganggap dirinyalah yang paling benar begitu juga dengan empirisme
dengan kemampuan pancan indra ia juga akan bersikap kokoh untuk dengan
pendapatnya yang paling benar. Rasionalisme menjadikan Pengalaman panca indra
hanya untuk merangsanga akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal
dapat bekerja.
B.
Pembahasan
Ada beberapa tokoh besar dalam
filsafat rasionalisme yaitu descartes, spinoza, dan leibnis yang pada bagian berikut
ini akan kami cantumkan pokok-pokok
pemikiran dari setiap mereka. Sebelum melangkah lebih jauh perlu kiranya untuk
diketahui terlebih dahulu definisi dari pada rasionalisme.
Rasionalisme adalah paham filsafat
yang mengatakan bahwa akal(reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh
pengetahuan dan mengetes pengetahuan[1].
Sedangkan dalam kamus ilmiyah populer
rasionalisme adalah pandangan bahwa akan memiliki kekuatan independen
untuk dapat mengetahui dan mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam, atau
terhadap suattu kebenaran yang menurut logika, berada sebelum pengalaman,
tetapi tidak bersifat analitik.[2]
Pengertian yang demikian bertolak belakang dengan dengan empirisme yang lebih
menekankan pada pengalaman empirik dan
pengethuan diperoleh dengan jalan pengalaman empiris. Rasioanalisme
bertpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan datang dari akal.
kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif[3]
dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penelarannya
didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip
itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Paham yang
dikenal dengan nama idealisme.[4] Hal inilah yang menjadikan kaum rasionalis
menganggap dirinya lebih benar dari kaum empiris yang mengandalkan pengalaman yang
bersifat kongkret dalam memperoleh pengetahuan. Karena pengetahuan yang disusun
berdasarkan pengalaman, maka pengetahuan yang didapatnya hanyalah berupa kumpulan
fakta-fakta. Dimana fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan
mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif[5].
Dengan demikian rasionalisme lebih benar dari pada empirisme.
Dilihat dari Sejarah rasionalisme
sudah sangat tua sekali. Beraewal dari thales yang pemikirannya bertentangan
dengan para filusuf lainnya yaitu socrates, plato dan
aristoteles dengan menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Kemudian
dilanjutkan oleh para pemikutnya di era modern, misalnya descartes yang
merupakan Tokoh pertama rasionalisme , kemudian ikuti oleh baruch spinoza dan
leibnis dan kemudian disempurnakan oleh hegel yang terkenal sebagai tokoh
rasionalisme dalamsejarah.
C.
Aliran tokoh
Beberapa aliran
tokoh rasionalisme yang akan dibahas
berikut ini antara lain;
1.
Descartes
(1596-1650)
Dalam catatan, descartes adalah
orang inggris. Ayahnya anggota parlemen inggris. Pada tahun 1612 descartes
pergi ke prancis. Ia taat mengajarkan ibadah menurut ajaran agama katholik,
tetapi ia juga menganut galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh
tokoh-tokoh gereja. Dari tahun 1629 sampai tahun 1649 ia menetap di belanda.[6]
Pengaruh keimanan
yang begitu kuat pada abad pertengahan, yang tergambar pada ungkapan credo
ut intellegam itu, membuat para
pemikir takut untuk mengemukakan pemikirannya yang berbeda dari pendapat dari
toko gereja. Descrates yang sudah lama merasa tidak puas terhadap pekembangan
filsafat yang amat lamban dan banyak memakan koran itu. Amat lamban terutama
apabila dibandandingkan dengan perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia
melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan
lambannya perkemangan itu. Ia ingin filsafat terlepas dari dominasi agama kristen.
Ia ingin filsafat dikembangkan kepada semangat filsafat yunani, yaitu filsafat
yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali rasionalisme yunani.[7]
Dari sejarah singkat Descartes di atas dapat
di simpulkan betapa tertekangnya para ilmuan saat itu. Descarteas yang merasa
tidak puas dengan filsafat di zamanya yang terlalu tergantung pada dalil-dalil filsuf zaman dahulu, seperti
aristoteles.[8]
Yang menurutnya telah menghambat
perkembangan filsafat. selain itu kemandekan juga terjadi karena akibatkan tekanan para tokoh-tokoh gereja yang
berpengaruh saat itu. Keimanan tokoh-tokoh gereja yang sangat kuat menjadi
tidak mudah bagi descartes untuk menyakinkan mereka bahwa dasar filsafat itu adalah rasio. Maka kemudian dia membuat argumentasi
yang dikenal dengan metode cogito.
Untuk membangun fondasi filsafatnya,
descrates mengawali filsafatnya dengan
metode keraguan atau yang dikenal cogito itu, bahkan dia sendiri
menyerukan segala sesuatu harus diragukan begitulah desak descartes, segala apa yang ada dalam hidup ini dimulai
dengan meragukan sesuatu.[9]
Metode ini bukanlah sebuah tujuan melainkan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu
yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Dalam memulai filsafatnya dengan metode keraguannya
tersebut.
Ada tiga tahap dalam upayanya menemukan kepastian, di mana
dia mengawali semuanya dengan keraguan. Pertama dia meragukan segala hal yang dapat diindra,
descrates berpendapat bahwa pengamatan langsung bila menipu sehingga orang
tidak pernah yakin sepenuhnya bahwa sesuatu memang seperti apa yang tampak,
entah seberapa jauh pun dekatnya kita memandangnya.[10]
Kemudian dia meragukan adanya badannya sendiri yang tidak bisa membedakan
antara mimpi dan jaga. Begitu pula dengan ilusinasi, ilusi dan kejadian dengan
roh halus. Karena terkadang dalam mimpi seseorang seolah-olah kejadian yang
sebenarnya, tetapi terkadang hanya sekedar mimpi. Inilah yang dimaksud
descrates tidak ada perbedaan antara mimpi dan jaga. Kedua dia mencoba menguji gerak,
jumalah dan basaran di mana ketiga hal tersebut terdapat dalam jaga dan
mimpi, yang menurutnya lebih pasti ada, namun ketiga hal tersebut pun juga tidak bisa dia jadikan dasar
filsafatnya. karena gerak, jumlah, dan besaran adalah bagian dari matimaka atau ilmu pasti.
Dia masih meragukan kebenaran dari ilmu pasti karena ilmu pasti juga bisa
salah. Dan hal ini telah dia buktikan sendiri ketika dia melakukan penjumlah
dia mengalami kesalahan, begitu pula dengan gerak dan besaran. Kemudian yang ketiga
dia menemukan jawabannya bahwa yang pasti itu adalah dia sedang ragu. Tidak dapat diragukan lagi bahwa saya sedang
ragu.[11]
Aku sedang ragu itulah sebabnya aku
berfikir. Kalau begitu aku berfikir pasti ada dan benar. Jika aku
berfikir ada, berarti aku ada sebab yang berfikir itu aku. Aku
berfikir, jadi aku ada. Dasar teorinya
descartes tidak jauh berbeda dengan apa yang di kemukakan oleh Al-ghazali tentang keraguannya.
2.
Spinoza
(1672-1677)
Spinoza
dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal pada 1677. Nama aslinya Baruch
Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi, ia mengubah namanya
menjadi Benedictus De Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota amsterdam. Ia amat
terkesan oleh sains, dan dari descartes ia menerima pandangan bahwa cara
yang benar untuk mendirikan bangunan pengetahuan ilmiah adalah dengan berangkat
dari premis-premis yang tak dapat diragukan, dan baru kemudian menyimpulkan
pelbagai konsekuensinya dengan menggunakan penalaran logika.
Namun
serentak pula ia melihat bahwa filsafat Descartes masih meninggalkan sejumlah
permasalahan fundamental yang belum terpecahkan. Jika realitas terdiri dari dua
jenis substansi yang jelas terbedakan, yakni substansi material dan substansi
mental, atau jiwa dan materi, bagaimana mungkin jiwa dapat menggerakkan materi
dalam ruang? Jawaban Descartes terhadap pertanyaan ini begitu lemahnya sehingga
tidak seorangpun yang yakin terhadapnya, dan para penerusnya menganggap hal itu
tak terlalu penting untuk didiskusikan.
Spinoza juga menentang Dualisme, ia
menjelaskan totalitas segalanya merupakan satu-satunya hal yang tidak memiliki
apapun diluar dirinya sendiri. Totalitas segalanya merupakan satu-satunya
substansi sejati, satu-satunya hal yang mencukupi dirinya sendiri, satu-satunya
sebab yang tidak ada sebabnya. Itu ciri-ciri tuhan. Maka, tuhan pastilah
ko-ekuivalen dengan segalanya.[12]
Spinoza
juga memunculkan sesuatu yang bermanfaat untuk kaum liberal, dia berpendapat
bahwa kebebasan berbicara sama sekali tidak mengganggu ketertiban umum, bahkan
justru diperlukan untuk mewujudkannya. Pandangan ini sekarang menjadi sikap
kaum liberal, namun spinozalah yang pertama kali mengemukakannya. dalam
pandangan ini masyarakat boleh memikirkan apapun yang disukainya, dilihanya dan
mengatakan apapun yang dipirkinnya. Namun Spinoza juga menambahkan bahwa
perongrong kedamaian yang sebenarnya adalah mereka yang berusaha mengekang
kebebasan orang untuk menilai.[13]
Karya-karya
dari Spinoza adalah Etika (1677), Risalah Teologis-politis.[14]
3.
Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716)
Gottfried
Wilhelm Von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716M. Ia
filsuf Jerman, matematikawan, fisikawan,
dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah, menjadi atase, pembantu pejabat
tinggi negara. Pusat metafisikanya adalah ide tentang substansi yang
dikembangkan dalam konsep monad.
Dalam
hal ini dimana setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan tuhan (supermonad
dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta dari monad-monad
itu. Monad tidak mempunyai kualitas karena hanya tuhan yang benar-benar
mengetahui setiap monad seperti yang di ungkapkan Leibnis disebut prinsip
kontroversi ”prinsip identitas yang tidak dapat dibedakan”.
Leibniz
juga memiliki gagasan bahwa tuhan atau substansi tidak terbatas dipahami dengan
berfikir secara hati-hati sebab ia adalah alam rasional, sifat-sifatnya
berkembang dalam pemikiran jadi idenya tidak
di mulai dari pemikiran tetapi langsung pada esensi yang tersendiri. Monad
bergerak menyusun dunia yang telah dipergunakan kedalam diri makhluk pada saat
penciptaan.Lebnis menyakini bahwa alam semesta di kuasai oleh akal.
Metafisika
Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta
ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung kepada sebab, sementara substansi
pada Leibinz ialah prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat
dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai
alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya.
Kita lihat bahwa hanya ada satu substansi. Leibniz berpendapat bahwa substansi
itu banyak. Ia menyebut substansi-substansi itu monad. Setiap monad
berbeda satu dari yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan
satu-satunya monad yang tidak
dicipta) adalah Pencipta monad-monad
itu. Maka karya Leibniz tentang ini[15]
diberi judul Monadology (studi
tentang monad) yang ditulisnya tahun
1714. Ini adalah singkatan metafisika Leibniz.[16]
D.
Pokok pikiran
Ada beberapa pokok pikiran dari rasionalisme
antara lain:
1.
Kepercayaan
pada kekuatan akal budi manusia bahwa Segala
sesuatu dapat dan harus di mengerti secara rasional. Suatu pernyataan boleh di
terima sebagai benar, dan sebuah claim hanya dianggap sah, apabila dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional.[17]
Dalam hal ini rasionalisme sangat bertentangan
dengan tradisionalisme yang lebih condong pada hal-hal yang sering kali tidak
bisa dibuktikan kebenarannya dengan rasio (akal), seperti halnya dogma-dogma
dan wewenang tradisional. Rasionalisme
bisa saja menerima dogma, tradisi atau wewenang dari orang yang menuntut jika
kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan secara rasio (akal). Tetapi hal itu
tidak akan pernah terjadi kerena kedua aliran ini akan selalu bertolak belakang
antara yang satu dengan yang lainnya.
2.
Rasionalisme
menolak dengan adanya tradisi, dogma dan otoritas karena semua itu tidak bisa
dibuktikan secara akal;
3.
Kembali
ke alam;
4.
Sekularisme;[18]
5.
Rasionalisme
menjadi batu loncatan bagi para pemikir setelah Descartes berani mengajukan
pemikiran tentang rasionalismenya, maka saat itu pula banyak lahir para pemikir
yang sebelumnya hanya membumkam dan
tidak berani memaparkan pemikirannya
sendiri;
6.
Rasionalisme
membuka kembali pintu pemikiran yang telah lama dikuasai dan didominasi oleh
keimanan gereja; dan
7.
Rasionalisme
berhasil menjatuhkan dominasi gereja yang saat itu sangat mempengaruhi para
pemikir terutama dalam perkembangan filsafat.
E.
Kontribusi terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan
Rasionalisme sebagaimana kita pahami
bersama sebagai faham filsafat yang
menganggap akal sebagai faktor terpenting dalam memperoleh pengetahuan[19]
mempunyai kontribusi yang banyak sekali terhadap perkembangan perdaban ilmu
pengetahuan. Faham rasionalisme ini mampu membuka pintu yang sudah lama
tertutup rapat oleh faham-faham gereja yang berkuasa saat itu menjadi terbuka
kembali, sehingga ketika pintu-pintu tersebut terbuka lebar banyak sekali para
pemikir yang lahir mengiringi descartes. Laksana bendungan yang jebol, dalam
waktu yang relatif singkat banyak sekali para pemikir yang muncul dalam
persentase yang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan filosof abad
pertengahan.[20]
Hal ini merupakan titik awal kemenangan akal atas iman (hati) pada abad
pertengahan . karena telah mampu menghidupkan kembali pemikir-pemikir yang
sudah lama terkubur dan kemudian bangkit
kembali.
kontribusi rasionalisme terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini merupakan
salah satu dari jasa terbesarnya descartes. Dia berani memperjuangkan hidupnya untuk
memberontak para tokoh-tokoh gereja yang telah menjadikan perkembangan ilmu
pengetahuan tersendat. Tidak bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi sekarang
jika saja waktu itu descartes tidak berani mengemukakan pemikirannya, tetapi pastinya dominasi gereja akan atas
ilmu pengetahuan akan semangkin kuat dan tak terkalahkan dan tentunya ilmu
pengetahuan penuh dengan kemistikan, kalau sudah demikian tentunya para ilmuan
akan semangkin takut untuk membantah setiap pemikiran para tokoh-tokoh gereja.
karena dengan arogansinya mereka tidak segan-segan membunuh orang yang berani
mengajukan pemikirannya apalagi sampai bertentangan dengan pemikiran
tokoh-tokoh gereja. Itulah makanya descartes pantas disebut dengan seorang
tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuuan. Mungkin kalau
saja waktu itu, descartes tidak berani dan takut dengan setiap kebijakan gereja
mengenai suatu ilmu, maka yang terjadi saat ini kita akan tetap berada dalam
belenggu kebijakan gereja, dan tentunya kita tidak mungkin merasakan
perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat ini.
Rasionalisme mempunyai peran
penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tentunyai dalam hal ini adalah
Decartes yang sangat berjasa karena dia telah mampu mengubah peradaban yang
mistik atau irrasional menjadi peradaban yang rasional. Tentunyai kita patut
juga berterima kasih padanya, karena berkat perjuangannya kita bisa berpikir
secara rasional dan tidak lagi terbelenggu oleh sesuatu yang mistik yang tidak
bisa kita nalar dengan pemikiran kita.
F.
Komentar
Rasionalisme merupakan sebuah faham filsafat
yang menomor satukan akal untuk mengukur
segala sesutu dalam upaya menemukan pengetahuan yang sebanar-benarnya. Diamana Descartes sebagai tokoh pertama dalam aliran rasionalisme yang
selalu merasionalkan segala sesuatu dengan akalnyan namun dia juga mempercayai
dengan adanya tuhan[21],
walaupun tuhan secara rasional tidak mungkin bisa kita rasionalkan. Memang paham
rasionalisme telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan. Di sinilah kelamahan manusia, yang mana tidak semuanya bisa dirasionalkan dengan
kemampuan akalnya, karena fungsi akal yang terbatas, akal tidak bisa menjelaskan kehidupan setelah
mati, itu artinya kita tdiak bisa menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber
kebenaran yang hakiki, kalu segala hal dapat dirasionalkan berarti manusia akan
menyamai kemampuan tuhannya, padahal kita
merupakan ciptaan tuhan. Tidak mungkin sesuatu yang diciptakan lebih
kuat dari yang menciptakan. Para kaum rasionalis juga tidak bisa merasionalkan akan
adanya malaikat apalagi sampai merasionalkan tentang eksistensi tuhan yang
keberadaannya lebih gaib lagi dari pada yang gaib.
Disitulah titik lemah dari rasionalisme, dan masih banyak lagi
misalnya dari evaluasi premis-premis yang digunakan oleh kaum rasional yang
bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman
maka evaluasi semacam ini tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat
penalaran rasional akan didaptkan bermacam-macam pengetahuan mengenai suatu
objek tertentu tanpa adanya konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak .
Dalam hal ini maka pemikiran rasional
cendrung untuk bersifat solipsistik[22]
dan subyektif.[23]
Kebenaran dalam rasonalisme hanya sebatas kebenaran akan semata.
Seperti dikatakan di atas bahwa
rasionalisme memang banyak memberikan kontribusi yang banyak atas perkembangan
ilmu pengetahuan, namun rasionalisme juga mempunyai banyak kekurangan misalnya
saja tentang kemampuannya dalam upaya merasionalkan tuhan sebagai mana tersebut
di atas. Dengan akal manusia bisa mencapai pada hakikat pengetahuan yang
mendalam namun akal tidak boleh menafikan
bahwa wahyu juga bagian dari cara untuk mendapatkan pengetahuan. Artinya
tidak semua pengetahuan bisa diperoleh dengan akal, buktinya cara memperoleh
pengetahuan selain bisa diperoleh dengan
rasionalisme dan empirisme juga bisa dengan dengan intuisi dan wahyu[24].
Hal ini menunjukan bahwa
manusia itu lemah, maka dengan kasih sayangnya atas kelemahan manusia, diperbandingkan
dengan kemahakuasaan tuhan, menolong manusia dengan menurunkan wahyu melalui nabi-nabi
dan rasul-rasulnya[25]
yang berfungsi untuk menjelaskan kepada manusia tentang kebenaran tersebut.
Karena wahyu adalah firman tuhan maka kebenarannya tidak diragukan lagi. Oleh
karenanya maka kemudian lahirlah filsafat islam yang kajian lebih luas
lagi, yang dikenal dengan aliran-aliran
teologis.[26]
Rasionalisme hanya mampu menemukan
hal-hal yang dapat dipikir dengan akal saja,tetapi ia tidak mampu menemukan sesuatu yang tidak ada dalam rasio
dan nalar, jadi ia tidak tahu tentang keajaiban atau dalam hal teologi yaitu
tetang tuhan padahal dalam dunia ini, kita tidak pernah lepas dari peran dan
pengawasan tuhan. Maka dalam hal ini penting sekali yang namanya agama, karena
dengan agamalah manusia bisa mendapatkan nilai-nilai moral yang universal dan
mendapatkan hal-hal yang tidak dapat dicapai dengan akalnya semata.[27]
Daftar
Pustaka
Dahlanal, M. Al Barry, Kamus
Ilmiyah Populer, Yogyakarta: Arkola
surabaya, 2001.
Fuad, Ihsan, Filsafati llmu, Jakarta : Renika Cipta,
2010.
IAIN, PUSLI,
Syarif Hidayatullah Jakarta, “Pendidikan
Kewargaraan” jakarta : IAIN Jakarta
press, 2002
Magee, Bryan, The
Story of Philosophy Kisah Tentang Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Magnis, Franz
Suseno, Filsafat Sebaga Ilmu Kritis, Yogyakarta:
kanisius , 1992.
Madkour, Ibrahim, Aliran
dan Teori Filsafat Islam, Alih Bahasa, Drs. Yudian Wahyudi Asmin, Yogyakarta
: Bumi Aksara, 1995.
Nasution, Harun, Teilogi
Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa
Perbandingan, Jakarta: Uneversitas Indonesia (UI-Press), 1986.
Suriansumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,
Jakarta: Pustaka Sianar Harapan, 2007.
tafsir, Ahmad, Filsafat
Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James, Bandung: Remaja Rosdakarya,
1997.
[1] . Dr.
Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 111
[2]. Puisa
Partanto M. Dahlanal Al Barry, “Kamus
Ilmiyah Populer”, (Yogyakarta:
Arkola surabaya, 2001, hal. 660
[3] . menarik
kesimpulan dari dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat
individual.
[4] . Jujun
S. Suriansumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”,( Jakarta:
Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 50
[5] .ibid.
hal. 52
[7]. Dr.
Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 112
[8]. Franz
Magnis Suseno, “Filsafat Sebaga Ilmu
Kritis”,( Yogyakarta: kanisius , 1992), Cet. Ke1, hal.70
[9] .Jujun
S. Suriansumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”,( Jakarta:
Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 50
[10]. Brayan Magee, “The Story of Philosophy
Kisah Tentang Filsafat” , (Yogyakarta: Kanisius, 2008, hal 86
[11] . Dr.
Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 112-123
[12] Bryan
Magee, “The Story of Philosophy (Kisah tentang filsafa)t”, Yogyakarta: kanisius 2008, Cet. Ke-1,
hal.92
[13]. ibid,
hal.94
[14].ibid,
hal..95
[16]. Ibid,
hal. 155
[17] Franz
Magnis Suseno, “Filsafat Sebaga
Ilmu Kritis”, (Yogyakarta:
kanisius 1992), Cet. Ke-1, hal. 65
[18] .Ibid,
hal. 66
[19] . Dr.
Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 116
[20] . Ibid,
hal. 111
[22] . hanya
benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang
berfikir tersebut , yang artinya
kebenaran tersebut hanya menurut asumsinya sendiri, maka jika demikian
benar tersebut belum tentu benar menurut pemikiran orang lain.
[23] . Jujun
S. Suriasumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”, (Jakarta:
Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 51
[24] . Dr.
Ahmad tafsir,’’ Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 51
[25] . Harun
Nasution, “ Teilogi Islam
Aliran-Aliran Sejarah Analisa
Perbandingan”, ( jakarta:
uneversitas indonesia (UI-Press), hal. 81
[26] . Dr.
Ibrahim Madkour, “Aliran dan Teori
Filsafat Islam”, Alih Bahasa, Drs. Yudian Wahyudi Asmin, (Yogyakarta : Bumi
Aksara, 1995), hal. 2ke-2.
[27] .
PUSLIT IAIN Syarif Hidayyatullah Jakarta,
“Pendidikan Kewargaraan”
jakarta : IAIN Jakarta press, 2002, cet. Ke- 1, hal. 122
berbicara rasionalisme berarti kita berbicara tentang akal, karena rasionalisme merupakan faham yang didominasi oleh kekuatan akal bahkan menjadikan akal segala-galaya dalam menemukan kebenaran yang menjadi teka-teki kehidupan yang tidak pernah berakhir. ketika
BalasHapusrasionalisme dibicarakan maka empirismepun juga akan dibicarakan, hal ini bukan karena empirisme sebagai pelengkap dari rasionalisme akan tetapi faham yang bertolak belakang darinya. orang yang berfaham rasionalis akan menganggap bahwa pengalaman tidak bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan karena beberapa alasan, misalnya pengalaman tidak sesuai dengan realitanya, hal ini sering sekali terjadi. sebagai contoh sebuah ranting yang dicelupkan ke dalam air yang kelihatannya bengkok ternyata ketika ranting itu diangkat ranting itu ternyata lurus. jadi dari contoh kecil ini saja pengalaman sudah tidak realistis. kerena alasan-alasan inilah rasionalisme menolak empirisme.