Rabu, 10 April 2013

PONTIANAK_POS



Rasionalisme
Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat ilmu
Dosen pengampu
Andy Dermawan,M.Ag




Disusun oleh :
Abdur Rahman
Rifqi Shofiana Muktar
Nok Elis
Enggar Nurjati
Fitria Rosyidah Jamil
Adnan Ramadhan
Ummi Kusumastuti

Jurusan Sosiologi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2013

A.     Pendahuluan
            Sejarah perkembangan sebuah ilmu pengetahuan banyak yang lahir karena latar belakang masyarakat yang hidup saat itu. Teori-teori sosial Marx misalnya yang kini banyak dijadikan  rujukan oleh  para ilmu sosial dan ilmuwan-ilmuwan yang lain. Begitu pula dengan lahirnya sebuah paham atau ideologi, rasionalisme misalnya yang akan dibahas dalam makalah ini juga lahir  karena gejolak sosial yang mana manusia di tuntut untuk patuh pada doktrin-doktrin agama yang secara akal tidak bisa  diterima oleh golongan rasionalisme. Saat itu keberadaan manusia kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran saat itu diukur berdasarkan ukuran dari gereja, bukan menurut ukuran yang buat oleh manusia.  Maka lahirlah Rasionalisme  sebagai reaksi terhadap dominasi gereja pada abad pertengahan kristen di barat.
            Gejolak ini tersebut berlanjut hingga pada saat lahirnya seorang filusuf modern yaitu Descartes yang kemudian berhasil mengumumkan rasionalismenya, karena juga tidak luput dari realitas masyarakat yang saat itu dikenal sebagai masa renaissance yaitu masa  penemuan manusia dan dunia, dan merupakan permulaan  kebangkitan dunia modern.  Orang membagi sejarah  peradaban menjadi empat di mana renaissance dianggap sebagai  babak ketiga dari  ke empat babak tersebut yaitu abad ke-19. Renaissance dianggap sebagai masa kebangkitan kembali setelah lama berada pada masa kegelapan di bawah naungan dokma atau doktrin agama.
            Setelah Descartes mengumumkan tentang rasionalismenya, maka dimulailah babak baru dari pencerahan modern dan kemudian dia dikenal sebagai bapak filosof modern. Sebagai orang  yang berpaham rasional dia mencoba untuk merasionalkan segala sesuatu dengan akalnya hingga pada akhirnya dia merasa kebingungan sendiri ketika dia harus merasionalkan dengan adanya tuhan. Disinilah kelemahan flsafatnya yang tidak bisa berfikir jauh untuk membuktikan bahwa tuhan ada.
            Dalam perkembangannya rasionalisme semangkin menunjukan eksistensinya, hal itu karena descartes sebagai tokoh pertama rasionalisme telah mampu menunjukan kebenaran dalam filsafatnya kepada tokoh-tokoh gereja yang sangat kukuh keimanannya kepada agama. Keeksistensian rasionalisme semangkin kukuh setelah faham rasional ini terus dikembangkan oleh spinoza dan leibnis, yang mana mereka juga metjjr ngawali filsafatnya dengan metode yang pernah di terapkan oleh descartes.
            Rasionalisme yang berasumsi bahwa bagian terpenting dalam pengetahuan datang dari akal yaitu dengan berfikir secara rasional. Hal ini  sangat bersebarangan dengan empirisme yang menekankan bahwa semua hpengetahuan terpenting tertumpu pada panca indra. Kedua faham ini mengalir bagaikan air dan minyak yang tak pernah menyatu dan tersu bertolak belakang. Golongan rasionalis akan menganggap dirinyalah yang paling benar begitu juga dengan empirisme dengan kemampuan pancan indra ia juga akan bersikap kokoh untuk dengan pendapatnya yang paling benar. Rasionalisme menjadikan Pengalaman panca indra hanya untuk merangsanga akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja.

B.     Pembahasan
            Ada beberapa tokoh besar dalam filsafat rasionalisme yaitu descartes, spinoza, dan leibnis yang pada bagian berikut ini akan  kami cantumkan pokok-pokok pemikiran dari setiap mereka. Sebelum melangkah lebih jauh perlu kiranya untuk diketahui terlebih dahulu definisi dari pada rasionalisme.
            Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal(reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan[1]. Sedangkan dalam kamus ilmiyah populer  rasionalisme adalah pandangan bahwa akan memiliki kekuatan independen untuk dapat mengetahui dan mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam, atau terhadap suattu kebenaran yang menurut logika, berada sebelum pengalaman, tetapi tidak bersifat analitik.[2] Pengertian yang demikian bertolak belakang dengan dengan empirisme yang lebih menekankan pada  pengalaman empirik dan pengethuan diperoleh dengan jalan pengalaman empiris. Rasioanalisme bertpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan datang dari akal.
             kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif[3] dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penelarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Paham yang dikenal dengan nama idealisme.[4]  Hal inilah yang menjadikan kaum rasionalis menganggap dirinya lebih benar dari kaum empiris yang mengandalkan pengalaman yang bersifat kongkret dalam memperoleh pengetahuan. Karena pengetahuan yang disusun berdasarkan pengalaman, maka pengetahuan yang didapatnya hanyalah berupa kumpulan fakta-fakta. Dimana fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif[5]. Dengan demikian rasionalisme lebih benar dari pada empirisme.
            Dilihat dari Sejarah rasionalisme sudah sangat tua sekali. Beraewal dari thales yang pemikirannya bertentangan dengan  para  filusuf lainnya yaitu socrates, plato dan aristoteles dengan menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Kemudian dilanjutkan oleh para pemikutnya di era modern, misalnya descartes yang merupakan Tokoh pertama rasionalisme , kemudian ikuti oleh baruch spinoza dan leibnis dan kemudian disempurnakan oleh hegel yang terkenal sebagai tokoh rasionalisme dalamsejarah.

C.     Aliran tokoh
            Beberapa aliran tokoh rasionalisme  yang akan dibahas berikut ini antara lain;
1.      Descartes (1596-1650)
            Dalam catatan, descartes adalah orang inggris. Ayahnya anggota parlemen inggris. Pada tahun 1612 descartes pergi ke prancis. Ia taat mengajarkan ibadah menurut ajaran agama katholik, tetapi ia juga menganut galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Dari tahun 1629 sampai tahun 1649 ia menetap di belanda.[6]
            Pengaruh keimanan yang begitu kuat pada abad pertengahan, yang tergambar pada ungkapan credo ut intellegam  itu, membuat para pemikir takut untuk mengemukakan pemikirannya yang berbeda dari pendapat dari toko gereja. Descrates yang sudah lama merasa tidak puas terhadap pekembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan koran itu. Amat lamban terutama apabila dibandandingkan dengan perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkemangan itu. Ia ingin filsafat terlepas dari dominasi agama kristen. Ia ingin filsafat dikembangkan kepada semangat filsafat yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali rasionalisme yunani.[7]

             Dari sejarah singkat Descartes di atas dapat di simpulkan betapa tertekangnya para ilmuan saat itu. Descarteas yang merasa tidak puas dengan filsafat di zamanya yang terlalu tergantung  pada dalil-dalil filsuf zaman dahulu, seperti aristoteles.[8]  Yang menurutnya telah menghambat perkembangan filsafat.  selain itu  kemandekan juga terjadi karena akibatkan  tekanan para tokoh-tokoh gereja yang berpengaruh saat itu. Keimanan tokoh-tokoh gereja yang sangat kuat menjadi tidak mudah bagi descartes untuk menyakinkan mereka bahwa  dasar filsafat itu adalah rasio.  Maka kemudian dia membuat argumentasi yang  dikenal dengan metode cogito.
            Untuk membangun fondasi filsafatnya, descrates  mengawali filsafatnya dengan metode keraguan atau yang dikenal cogito itu, bahkan dia sendiri menyerukan segala sesuatu harus diragukan begitulah desak descartes,  segala apa yang ada dalam hidup ini dimulai dengan meragukan sesuatu.[9] Metode ini bukanlah sebuah tujuan melainkan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Dalam  memulai filsafatnya dengan metode keraguannya tersebut.
            Ada tiga tahap  dalam upayanya menemukan kepastian, di mana dia mengawali semuanya dengan keraguan. Pertama  dia meragukan segala hal yang dapat diindra, descrates berpendapat bahwa pengamatan langsung bila menipu sehingga orang tidak pernah yakin sepenuhnya bahwa sesuatu memang seperti apa yang tampak, entah seberapa jauh pun dekatnya kita memandangnya.[10] Kemudian dia meragukan adanya badannya sendiri yang tidak bisa membedakan antara mimpi dan jaga. Begitu pula dengan ilusinasi, ilusi dan kejadian dengan roh halus. Karena terkadang dalam mimpi seseorang seolah-olah kejadian yang sebenarnya, tetapi terkadang hanya sekedar mimpi. Inilah yang dimaksud descrates tidak ada perbedaan antara mimpi dan jaga.  Kedua dia mencoba menguji gerak, jumalah dan basaran di mana ketiga hal tersebut terdapat dalam jaga dan mimpi, yang menurutnya lebih pasti ada, namun ketiga hal tersebut pun  juga tidak bisa dia jadikan dasar filsafatnya. karena gerak, jumlah, dan besaran  adalah bagian dari matimaka atau ilmu pasti. Dia masih meragukan kebenaran dari ilmu pasti karena ilmu pasti juga bisa salah. Dan hal ini telah dia buktikan sendiri ketika dia melakukan penjumlah dia mengalami kesalahan, begitu pula dengan gerak dan besaran. Kemudian yang ketiga dia menemukan jawabannya bahwa yang pasti itu adalah dia sedang ragu.  Tidak dapat diragukan lagi bahwa saya sedang ragu.[11]
            Aku sedang ragu itulah sebabnya aku berfikir. Kalau begitu aku berfikir pasti ada dan benar. Jika aku berfikir ada, berarti aku ada sebab yang berfikir itu aku. Aku berfikir, jadi aku ada.  Dasar teorinya descartes tidak jauh berbeda dengan apa yang di kemukakan oleh  Al-ghazali tentang keraguannya.
2.      Spinoza (1672-1677)
Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal pada 1677. Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi, ia mengubah namanya menjadi Benedictus De Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota amsterdam. Ia amat terkesan oleh sains, dan dari descartes ia menerima pandangan bahwa cara yang benar untuk mendirikan bangunan pengetahuan ilmiah adalah dengan berangkat dari premis-premis yang tak dapat diragukan, dan baru kemudian menyimpulkan pelbagai konsekuensinya dengan menggunakan penalaran logika.
Namun serentak pula ia melihat bahwa filsafat Descartes masih meninggalkan sejumlah permasalahan fundamental yang belum terpecahkan. Jika realitas terdiri dari dua jenis substansi yang jelas terbedakan, yakni substansi material dan substansi mental, atau jiwa dan materi, bagaimana mungkin jiwa dapat menggerakkan materi dalam ruang? Jawaban Descartes terhadap pertanyaan ini begitu lemahnya sehingga tidak seorangpun yang yakin terhadapnya, dan para penerusnya menganggap hal itu tak terlalu penting untuk didiskusikan.
 Spinoza juga menentang Dualisme, ia menjelaskan totalitas segalanya merupakan satu-satunya hal yang tidak memiliki apapun diluar dirinya sendiri. Totalitas segalanya merupakan satu-satunya substansi sejati, satu-satunya hal yang mencukupi dirinya sendiri, satu-satunya sebab yang tidak ada sebabnya. Itu ciri-ciri tuhan. Maka, tuhan pastilah ko-ekuivalen dengan segalanya.[12]
Spinoza juga memunculkan sesuatu yang bermanfaat untuk kaum liberal, dia berpendapat bahwa kebebasan berbicara sama sekali tidak mengganggu ketertiban umum, bahkan justru diperlukan untuk mewujudkannya. Pandangan ini sekarang menjadi sikap kaum liberal, namun spinozalah yang pertama kali mengemukakannya. dalam pandangan ini masyarakat boleh memikirkan apapun yang disukainya, dilihanya dan mengatakan apapun yang dipirkinnya. Namun Spinoza juga menambahkan bahwa perongrong kedamaian yang sebenarnya adalah mereka yang berusaha mengekang kebebasan orang untuk menilai.[13]
Karya-karya dari Spinoza adalah Etika (1677), Risalah Teologis-politis.[14]
3.      Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716)
Gottfried Wilhelm Von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716M. Ia filsuf  Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah, menjadi atase, pembantu pejabat tinggi negara. Pusat metafisikanya adalah ide tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad.
Dalam hal ini dimana setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan tuhan (supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta dari monad-monad itu. Monad tidak mempunyai kualitas karena hanya tuhan yang benar-benar mengetahui setiap monad seperti yang di ungkapkan Leibnis disebut prinsip kontroversi ”prinsip identitas yang tidak dapat dibedakan”.
Leibniz juga memiliki gagasan bahwa tuhan atau substansi tidak terbatas dipahami dengan berfikir secara hati-hati sebab ia adalah alam rasional, sifat-sifatnya berkembang dalam pemikiran jadi idenya tidak  di mulai dari pemikiran tetapi langsung pada esensi yang tersendiri. Monad bergerak menyusun dunia yang telah dipergunakan kedalam diri makhluk pada saat penciptaan.Lebnis menyakini bahwa alam semesta di kuasai oleh akal.
Metafisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung kepada sebab, sementara substansi pada Leibinz ialah prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan  untuk setiap yang diciptakan-Nya. Kita lihat bahwa hanya ada satu substansi. Leibniz berpendapat bahwa substansi itu banyak. Ia menyebut substansi-substansi itu monad. Setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah Pencipta monad-monad itu. Maka karya Leibniz tentang ini[15] diberi judul Monadology (studi tentang monad) yang ditulisnya tahun 1714. Ini adalah singkatan metafisika Leibniz.[16]
                                                                                                                                                                                                                                                 
D.    Pokok pikiran
            Ada beberapa pokok pikiran dari rasionalisme antara  lain:
1.      Kepercayaan pada kekuatan akal budi manusia bahwa  Segala sesuatu dapat dan harus di mengerti secara rasional. Suatu pernyataan boleh di terima sebagai benar, dan sebuah claim  hanya dianggap sah, apabila dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.[17] Dalam hal ini rasionalisme sangat  bertentangan dengan tradisionalisme yang lebih condong pada hal-hal yang sering kali tidak bisa dibuktikan kebenarannya dengan rasio (akal), seperti halnya dogma-dogma dan wewenang tradisional.  Rasionalisme bisa saja menerima dogma, tradisi atau wewenang dari orang yang menuntut jika kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan secara rasio (akal). Tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi kerena kedua aliran ini akan selalu bertolak belakang antara yang satu dengan yang lainnya.
2.      Rasionalisme menolak dengan adanya tradisi, dogma dan otoritas karena semua itu tidak bisa dibuktikan secara akal;
3.      Kembali ke alam;
4.      Sekularisme;[18]
5.      Rasionalisme menjadi batu loncatan bagi para pemikir setelah Descartes berani mengajukan pemikiran tentang rasionalismenya, maka saat itu pula banyak lahir para pemikir yang sebelumnya  hanya membumkam dan tidak berani memaparkan  pemikirannya sendiri;
6.      Rasionalisme membuka kembali pintu pemikiran yang telah lama dikuasai dan didominasi oleh keimanan gereja; dan
7.      Rasionalisme berhasil menjatuhkan dominasi gereja yang saat itu sangat mempengaruhi para pemikir terutama dalam perkembangan filsafat.

E.     Kontribusi terhadap  perkembangan ilmu pengetahuan
            Rasionalisme sebagaimana kita pahami bersama sebagai  faham filsafat yang menganggap akal sebagai faktor terpenting dalam memperoleh pengetahuan[19] mempunyai kontribusi yang banyak sekali terhadap perkembangan perdaban ilmu pengetahuan. Faham rasionalisme ini mampu membuka pintu yang sudah lama tertutup rapat oleh faham-faham gereja yang berkuasa saat itu menjadi terbuka kembali, sehingga ketika pintu-pintu tersebut terbuka lebar banyak sekali para pemikir yang lahir mengiringi descartes. Laksana bendungan yang jebol, dalam waktu yang relatif singkat banyak sekali para pemikir yang muncul dalam persentase yang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan filosof abad pertengahan.[20] Hal ini merupakan titik awal kemenangan akal atas iman (hati) pada abad pertengahan . karena telah mampu menghidupkan kembali pemikir-pemikir yang sudah lama terkubur dan kemudian bangkit  kembali.
            kontribusi rasionalisme terhadap perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini merupakan salah satu dari jasa terbesarnya descartes. Dia berani memperjuangkan hidupnya untuk memberontak para tokoh-tokoh gereja yang telah menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan tersendat. Tidak bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi sekarang jika saja waktu itu descartes tidak berani mengemukakan pemikirannya,  tetapi pastinya dominasi gereja akan atas ilmu pengetahuan akan semangkin kuat dan tak terkalahkan dan tentunya ilmu pengetahuan penuh dengan kemistikan, kalau sudah demikian tentunya para ilmuan akan semangkin takut untuk membantah setiap pemikiran para tokoh-tokoh gereja. karena dengan arogansinya mereka tidak segan-segan membunuh orang yang berani mengajukan pemikirannya apalagi sampai bertentangan dengan pemikiran tokoh-tokoh gereja. Itulah makanya descartes pantas disebut dengan seorang tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuuan. Mungkin kalau saja waktu itu, descartes tidak berani dan takut dengan setiap kebijakan gereja mengenai suatu ilmu, maka yang terjadi saat ini kita akan tetap berada dalam belenggu kebijakan gereja, dan tentunya kita tidak mungkin merasakan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat ini.
            Rasionalisme mempunyai peran penting  dalam perkembangan ilmu  pengetahuan, tentunyai dalam hal ini adalah Decartes yang sangat berjasa karena dia telah mampu mengubah peradaban yang mistik atau irrasional menjadi peradaban yang rasional. Tentunyai kita patut juga berterima kasih padanya, karena berkat perjuangannya kita bisa berpikir secara rasional dan tidak lagi terbelenggu oleh sesuatu yang mistik yang tidak bisa kita nalar dengan pemikiran kita.
F.      Komentar
            Rasionalisme merupakan sebuah faham filsafat yang  menomor satukan akal untuk mengukur segala sesutu dalam upaya menemukan pengetahuan yang sebanar-benarnya.  Diamana Descartes sebagai  tokoh pertama dalam aliran rasionalisme yang selalu merasionalkan segala sesuatu dengan akalnyan namun dia juga mempercayai dengan adanya tuhan[21], walaupun tuhan secara rasional tidak mungkin bisa kita rasionalkan. Memang paham rasionalisme telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Di sinilah kelamahan manusia, yang mana  tidak semuanya bisa dirasionalkan dengan kemampuan akalnya, karena fungsi akal yang terbatas, akal  tidak bisa menjelaskan kehidupan setelah mati, itu artinya kita tdiak bisa menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang hakiki, kalu segala hal dapat dirasionalkan berarti manusia akan menyamai kemampuan tuhannya, padahal kita  merupakan ciptaan tuhan. Tidak mungkin sesuatu yang diciptakan lebih kuat dari yang menciptakan. Para kaum rasionalis juga tidak bisa merasionalkan akan adanya malaikat apalagi sampai merasionalkan tentang eksistensi tuhan yang keberadaannya lebih gaib lagi dari pada yang gaib.
Disitulah titik lemah dari rasionalisme, dan masih banyak lagi misalnya dari evaluasi premis-premis yang digunakan oleh kaum rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman  maka evaluasi semacam ini tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didaptkan bermacam-macam pengetahuan mengenai suatu objek tertentu tanpa adanya konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak . Dalam hal ini  maka pemikiran rasional cendrung untuk bersifat  solipsistik[22] dan subyektif.[23] Kebenaran dalam rasonalisme hanya sebatas kebenaran akan semata.

            Seperti dikatakan di atas bahwa rasionalisme memang banyak memberikan kontribusi yang banyak atas perkembangan ilmu pengetahuan, namun rasionalisme juga mempunyai banyak kekurangan misalnya saja tentang kemampuannya dalam upaya merasionalkan tuhan sebagai mana tersebut di atas. Dengan akal manusia bisa mencapai pada hakikat pengetahuan yang mendalam namun akal tidak boleh menafikan  bahwa wahyu juga bagian dari cara untuk mendapatkan pengetahuan. Artinya tidak semua pengetahuan bisa diperoleh dengan akal, buktinya cara memperoleh pengetahuan selain bisa diperoleh dengan  rasionalisme dan empirisme juga bisa dengan dengan intuisi dan wahyu[24].
            Hal ini menunjukan bahwa manusia  itu lemah,  maka dengan kasih sayangnya  atas kelemahan manusia, diperbandingkan dengan kemahakuasaan tuhan, menolong manusia dengan menurunkan wahyu melalui nabi-nabi dan rasul-rasulnya[25] yang berfungsi untuk menjelaskan kepada manusia tentang kebenaran tersebut. Karena wahyu adalah firman tuhan maka kebenarannya tidak diragukan lagi. Oleh karenanya maka kemudian lahirlah filsafat islam yang kajian lebih luas lagi,  yang dikenal dengan aliran-aliran teologis.[26]
            Rasionalisme hanya mampu menemukan hal-hal yang dapat dipikir dengan akal saja,tetapi ia tidak mampu  menemukan sesuatu yang tidak ada dalam rasio dan nalar, jadi ia tidak tahu tentang keajaiban atau dalam hal teologi yaitu tetang tuhan padahal dalam dunia ini, kita tidak pernah lepas dari peran dan pengawasan tuhan. Maka dalam hal ini penting sekali yang namanya agama, karena dengan agamalah manusia bisa mendapatkan nilai-nilai moral yang universal dan mendapatkan hal-hal yang tidak dapat dicapai dengan akalnya semata.[27]


                               Daftar Pustaka
Dahlanal, M.  Al Barry, Kamus Ilmiyah Populer,  Yogyakarta: Arkola surabaya, 2001.
Fuad,  Ihsan,  Filsafati llmu, Jakarta : Renika Cipta, 2010.
IAIN, PUSLI, Syarif Hidayatullah Jakarta,  Pendidikan Kewargaraan”  jakarta : IAIN Jakarta press, 2002
Magee, Bryan, The Story of Philosophy Kisah Tentang Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Magnis, Franz Suseno, Filsafat Sebaga Ilmu  Kritis, Yogyakarta: kanisius , 1992.
Madkour, Ibrahim, Aliran  dan Teori Filsafat Islam, Alih Bahasa, Drs. Yudian Wahyudi Asmin, Yogyakarta : Bumi Aksara, 1995.
Nasution, Harun,  Teilogi Islam Aliran-Aliran  Sejarah Analisa Perbandingan,  Jakarta:  Uneversitas Indonesia (UI-Press), 1986.
Suriansumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sianar Harapan, 2007.
tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997.
           


[1] . Dr. Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 111
[2]. Puisa Partanto M. Dahlanal  Al Barry, “Kamus Ilmiyah Populer”,  (Yogyakarta: Arkola surabaya, 2001, hal. 660 
[3] . menarik kesimpulan dari dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.
[4] . Jujun S. Suriansumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”,( Jakarta: Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 50
[5] .ibid. hal. 52
[6]. Drs. H. A. Fuad Ihsan,  “Filsafati llmu”, ( Jakarta : Renika Cipta, 2010), hal. 151.
[7]. Dr. Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 112
[8]. Franz Magnis Suseno, “Filsafat Sebaga Ilmu  Kritis”,( Yogyakarta: kanisius , 1992), Cet. Ke1, hal.70
[9] .Jujun S. Suriansumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”,( Jakarta: Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 50
[10].  Brayan Magee, “The Story of Philosophy Kisah Tentang Filsafat” , (Yogyakarta: Kanisius, 2008, hal 86
[11] . Dr. Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 112-123
[12] Bryan Magee, “The Story of Philosophy (Kisah tentang filsafa)t”,  Yogyakarta: kanisius 2008, Cet. Ke-1, hal.92
[13]. ibid, hal.94
[14].ibid, hal..95
[15]. Ihsan Fuad. “Filsafat Ilmu”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),  hal. 154       
[16]. Ibid, hal. 155
[17] Franz Magnis Suseno, “Filsafat  Sebaga Ilmu  Kritis”, (Yogyakarta: kanisius  1992), Cet. Ke-1, hal. 65
[18] .Ibid, hal. 66
[19] . Dr. Ahmad tafsir, “Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 116
[20] . Ibid, hal. 111
[21] . Bryan Magee, The Story of Philosophy, (Yogyakarta:Kanisius  2008), hal
[22] . hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang berfikir tersebut , yang artinya  kebenaran tersebut hanya menurut asumsinya sendiri, maka jika  demikian  benar tersebut belum tentu benar menurut pemikiran orang lain.
[23] . Jujun S. Suriasumantri, “ Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”, (Jakarta: Pustaka Sianar Harapan, 2007), Cet. KE-21, hal. 51
[24] . Dr. Ahmad tafsir,’’ Filsafat Ilmu Akal dan Hati Sejak Thales sampai James”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 51
[25] . Harun Nasution, “  Teilogi Islam Aliran-Aliran  Sejarah Analisa Perbandingan”, ( jakarta:  uneversitas indonesia (UI-Press), hal. 81
[26] . Dr. Ibrahim Madkour, “Aliran  dan Teori Filsafat Islam”, Alih Bahasa, Drs. Yudian Wahyudi Asmin, (Yogyakarta : Bumi Aksara, 1995), hal. 2ke-2.
[27] . PUSLIT IAIN Syarif Hidayyatullah Jakarta,  Pendidikan Kewargaraan”  jakarta : IAIN Jakarta press, 2002, cet. Ke- 1, hal. 122

1 komentar:

  1. berbicara rasionalisme berarti kita berbicara tentang akal, karena rasionalisme merupakan faham yang didominasi oleh kekuatan akal bahkan menjadikan akal segala-galaya dalam menemukan kebenaran yang menjadi teka-teki kehidupan yang tidak pernah berakhir. ketika
    rasionalisme dibicarakan maka empirismepun juga akan dibicarakan, hal ini bukan karena empirisme sebagai pelengkap dari rasionalisme akan tetapi faham yang bertolak belakang darinya. orang yang berfaham rasionalis akan menganggap bahwa pengalaman tidak bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan karena beberapa alasan, misalnya pengalaman tidak sesuai dengan realitanya, hal ini sering sekali terjadi. sebagai contoh sebuah ranting yang dicelupkan ke dalam air yang kelihatannya bengkok ternyata ketika ranting itu diangkat ranting itu ternyata lurus. jadi dari contoh kecil ini saja pengalaman sudah tidak realistis. kerena alasan-alasan inilah rasionalisme menolak empirisme.

    BalasHapus